Malang – Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) mulai melakukan penghitungan total kerugian akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda ribuan hektare kawasan Gunung Bromo. Penghitungan tersebut dilakukan secara menyeluruh, mulai dari dampak terhadap lingkungan hingga kerugian ekonomi yang muncul akibat penutupan kawasan wisata.
Kepala BB TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha mengatakan, proses pendataan kerugian baru dilakukan setelah upaya pemadaman dan penanganan kebakaran di lapangan diselesaikan oleh tim gabungan.
Menurut Rudijanta, komponen kerugian yang harus dihitung cukup beragam, termasuk kerusakan lingkungan serta dampak ekonomi. Karena itu, pihaknya membutuhkan waktu untuk melakukan inventarisasi secara menyeluruh.
Ia menjelaskan, penghitungan kerugian tidak dapat dilakukan secara cepat. Setiap wilayah yang terdampak kebakaran harus dipetakan dan diidentifikasi terlebih dahulu agar nilai kerugian yang nantinya disampaikan kepada publik dapat dipertanggungjawabkan.
Selain menghitung kerusakan ekosistem dan dampak terhadap sektor pariwisata, BB TNBTS juga tengah merekap seluruh biaya operasional selama proses pemadaman berlangsung.
Penghitungan anggaran tersebut menjadi cukup kompleks karena penanganan karhutla melibatkan sejumlah instansi, seperti TNI, Polri, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Seluruh biaya yang dikeluarkan masing-masing pihak masih dalam proses penggabungan sehingga totalnya belum dapat dipastikan.
Kebakaran yang meluas sebelumnya membuat pengelola melakukan pembatasan akses sejak 3 Agustus 2026 melalui pintu Jemplang di Malang dan Senduro di Lumajang. Kondisi yang semakin parah kemudian menyebabkan seluruh akses menuju kawasan Bromo ditutup mulai Sabtu malam, 8 Agustus 2026.
Penutupan tersebut mencakup pintu masuk Cemorolawang di Probolinggo, Wonokitri di Pasuruan, serta Coban Trisula di Malang. Kebijakan diambil untuk menjaga keselamatan wisatawan sekaligus mempermudah proses pemadaman.
Meski kebakaran telah dinyatakan padam pada Jumat pagi, 14 Agustus 2026, dan pemantauan titik panas masih dilakukan, kawasan wisata Bromo hingga kini belum dibuka kembali untuk wisatawan.
Bagi calon pengunjung yang terdampak penutupan, pengelola menyediakan pilihan pengembalian dana tiket atau penjadwalan ulang kunjungan. Dari total 4.234 wisatawan yang memiliki tiket untuk periode 9–16 Agustus 2026, sebanyak 3.802 merupakan WNI dan 432 WNA.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 3.445 wisatawan memilih refund, yang terdiri dari 3.125 WNI dan 320 WNA. Sementara itu, 82 wisatawan yang seluruhnya merupakan WNI memilih untuk menjadwalkan ulang kunjungan mereka. (red/mre)
